translate

ramp my enterprenuer inspiration

Share it

Selasa, 30 Maret 2010

sheet metal forming

untuk lebih jeals silahkan klik

[klik]
read more...

Jumat, 19 Maret 2010

konsep mutu

Konsep Kualitas/mutu
Kualitas telah menjadi isu kritis dalam persaingan modern dewasa ini, dan hal itu telah menjadi beban tugas bagi para manager menengah. Dalam tataran abstrak kualitas telah didefinisikan oleh dua pakar penting bidang kualitas yaitu Joseph Juran dan Edward Deming. Mereka berdua telah berhasil menjadikan kualitas sebagai mindset yang berkembang terus dalam kajian managemen, khususnya managemen kualitas.
Menurut Juran Kualitas adalah kesesuaian untuk penggunaan (fitness for use), ini berarti bahwa suatu produk atau jasa hendaklah sesuai dengan apa yang diperlukan atau diharapkan oleh pengguna, lebih jauh Juran mengemukakan lima dimensi kualitas yaitu :
a. Rancangan (design), sebagai spesifikasi produk
b. Kesesuaian (conformance), yakni kesesuaian antara maksud desain dengan penyampaian produk aktual
c. Ketersediaan (availability), mencakup aspek kedapatdipercayaan, serta ketahanan. Dan produk itu tersedia bagi konsumen untuk digunakan
d. Keamanan (safety), aman dan tidak membahayakan konsumen
e. Guna praktis (field use) , kegunaan praktis yang dapat dimanfaatkan pada penggunaannya oleh konsumen.
Tokoh lain yang mengembangkan managemen kualitas adalah Edward Deming. Menurut Deming meskipun kualitas mencakup kesesuaian atribut produk dengan tuntutan konsumen, namun kualitas harus lebih dari itu. Menurut Deming terdapat empatbelas poin penting yang dapat membawa/membantu manager mencapai perbaikan dalam kualitas yaitu :
1. Menciptakan kepastian tujuan perbaikan produk dan jasa
2. Mengadopsi filosofi baru dimana cacat tidak bisa diterima
3. Berhenti tergantung pada inspeksi missal
4. Berhenti melaksanakan bisnis atas dasar harga saja
5. Tetap dan continue memperbaiki system produksi dan jasa
6. Melembagakan metode pelatihan kerja modern
7. Melembagakan kepemimpinan
8. Menghilangkan rintangan antar departemen
9. Hilangkan ketakutan
10. Hilangkan/kurangi tujuan-tujuan jumlah pada pekerja
11. Hilangkan managemen berdasarkan sasaran
12. Hilangkan rintangan yang merendahkan pekerja jam-jaman
13. Melembagakan program pendidikan dan pelatihan yang cermat
14. Menciptakan struktur dalam managemen puncak yang dapat melaksanakan transformasi seperti dalam poin-poin di atas.
Dengan memperhatikan pendapat dua tokoh kualitas di atas, nampak bahwa mereka menawarkan beberapa pandangan yang penting dalam bidang kualitas, pada intinya dapat difahami bahwa semua yang berkaitan dengan managemen kualitas atau perbaikan kualis yang diperlukan adalah penerapan pengetahuan dalam upaya meningkatkan/mengembangkan kualitas produk atau jasa secara berkesinambungan.
Sementara itu David A Garvin mengemukakan delapan dimensi atau kategoro kritis dari kualitas yaitu :
• Performance (Kinerja). Karakteristik kinerja utama produk.
• Feature (profil). Aspek sekunder dari kinerja, atau kinerja tambahan dari suatu produk
• Reliability (kedapat dipercayaan). Kemungkinan produk malfungsi, atau tidak berfungsi dengan baik, dalam konteks ini produk/jasa dapat dipercaya dalam menjalankan fungsingan
• Conformance (kesesuaian). Kesesuaianatau cocok dengan keinginan/kebutuhan konsumen
• Durability (Daya tahan). Daya tahan produk/masa hidup produk baik secara ekonomis maupun teknis
• Serviceability (kepelayanan), kecepatan, kesopanan, kompetensi, mudah diperbaiki
• Aesthetics (keindahan). Keindahan produk, dalam desain, rasa, suara atau bau dari produk, dan ini bersifat subjektif
• Perceived quality (kualitas yang dipersepsi). Kualitas dalam pandagan pelanggan/konsumen

Selain itu Banyak pakar lain yang mencoba mendefinisikan kualitas berdasarkan sudut pandangnya masing-masing. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut (Fandy Tjiptono. 2003:3)
• Performance to the standard expected by the customer
• Meeting the customer’s needs the first time and every time
• Providing our customers with products and services that consis¬tently meet their needs and expectations.
• Doing the right thing right the first time, always striving for improvement, and always satisfying the customer
• A pragmatic system of continual improvement, a way to success¬fully organize man and machines
• The meaning of excellence
• The unyielding and continuing effort by everyone in an organiza¬tion to understand, meet, and exceed the needs of its customers
• The best product that you can produce with the materials that you have to work with
• Continuous good product which a customer can trust
• Not only satisfying customers, but delighting them, innovating, creating.
Meskipun tidak ada definisi mengenai kualitas yang diterima secara universal, dari definisi-definisi yang ada terdapat beberapa kesamaan, yaitu dalam elemen-elemen sebagai berikut:
• Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
• Kualitas mencakup produk, ;jasa, manusia, proses, dan ling¬kungan.
• Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa Yang dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada masa mendatang).
 Konsep Penjaminan Kualitas/mutu (quality assurance)
Penjaminan kualitas adalah seluruh rencana dan lndakan sistematis yang penting untuk menyediakan kepercayaan yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan tertentu dari kualitas (Elliot, 1993). Kebutuhan tersebut merupakan refleksi dari kebutuhan pelanggan. Penjaminan kualitas biasanya membutuhkan evaluasi secara terus-menerus dan biasanya digunakan sebagai alat bagi manajemen. Menurut Gryna (1988), penjaminan kualitas merupakan kegiatan untuk memberikan bukti-bukti untuk membangun kepercayaan bahwa kualitas dapat berfungsi secara efektif (Pike dan Barnes, 1996).
Sementara itu Cartin (1999:312) memberikan definisi penjaminan kualitas sebagai berikut : Quality Assurance is all planned and systematic activities implemented within the the quality system that can be demonstrated to provide confidence that a product or service will fulfill requirements for quality
 Tujuan Penjaminan Kualitas/mutu
Tujuan kegiatan penjaminan mutu bermanfaat, baik bagi pihak internal maupun eksternal organisasi. Menurut Yorke (1997), tujuan penjaminan (Assurance) terhadap kualitas tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Membantu perbaikan dan peningkatan secara terus-menerus dan ber¬kesinambungan melalui praktek yang terbaik dan mau mengadakan inovasi.
2. Memudahkan mendapatkan bantuan, baik pinjaman uang atau fasilitas atau bantuan lain dari lembaga yang kuat clan dapat dipercaya.
3. Menyediakan informasi pada masyarakat sesuai sasaran dan waktu secara konsisten, dan bila mungkin, membandingkan standar yang telah dicapai dengan standar pesaing.
4. Menjamin tidak akan adanya hal-hal yang tidak dikehendaki.
Selain itu, tujuan dari diadakannya penjaminan kualitas (quality assurance) ini adalah agar dapat memuaskan berbagai pihak yang terkait di dalamnya, sehingga dapat berhasil mencapai sasaran masing-masing. Penjaminan kualitas merupakan bagian yang menyatu dalam membentuk kualitas produk dan jasa suatu organisasi atau perusahaan. Mekanisme penjaminan kualitas yang digunakan juga harus dapat menghentikan perubahan bila dinilai perubahan tersebut menuju ke arah penurunan atau kemunduran.
Berkaitan dengan penjaminan kualitas, Stebbing dalam Dorothea E. Wahyuni (2003) menguraikan mengenai kegiatan penjaminan kualitas sebagai berikut :
• Penjaminan kualitas bukan pengendalian kualitas atau inspeksi. Meskipun program penjaminan kualitas (quality assurance) mencakup pengendalian kualitas dan inspeksi, namun kedua kegiatan tersebut hanya merupakan bagian dari komitmen terhadap mutu secara menyeluruh.
• Penjaminan kualitas bukan kegiatan pengecekan yang luar biasa. Dengan kata lain, departemen pengendali kualitas tidak harus bertanggung jawab dalam pengecekan segala sesuatu yang dikerjakan oleh orang lain.
• Penjaminan kualitas bukan menjadi tanggung jawab bagian perancangan. Dengan kata lain, departemen penjaminan kualitas bukan murupakan keputusan bidang perancangan atau teknik, tetapi membutuhkan orang yang dapat bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan dalam bidang-bidang yang dibutuhkan dalam perancangan.
• Penjaminan kualitas bukan bidang yang membutuhkan biaya vang sangat besar. Pendokumentasian dan sertifikasi yang berkaitan dengan penjaminan kualitas bukan pernborosan.
• Kegiatan penjaminan kualitas merupakan kegiatm pengendalian melalui prosedur secara benar, selungga dapat mencapai perbaikan dalam efisiensi, produktivitns, dan profitabilitas.
• Penjaminan kualitas bukan merupakan obat yang mujarab untuk menyem-buhkan berbagai penyakit. Dengan penjaminan kualitas, justru akan dapat mengerjakan segala sesuatu dengan baik sejak awal dan setiap waktu (do it right the first time and every time).
• Penjaminan kualitas merupakan kegiatan untuk mencapai biaya yang efektif, membantu meningkatkan produktivitas.
 Perkembangan konsep Kualitas/mutu
Mutu merupakan konsep yang terus mengalami perkembangan dalam pemaknaannya, menurut Garvin perspektif tentang Konsep mutu mengalami evolusi sebagai berikut, dia mengidentifikasi adanya lima alternatif perspektif kuali¬tas yang biasa digunakan, yaitu:
1. Transcendental Approach
Kualitas dalam pendekatan ini dapat dirasakan atau diketahui, tetapi sulit didefinisikan dan dioperasionalkan. Sudut pandang ini biasanya diterapkan dalam seni musik, drama, seni tari, dan seni rupa. Selain itu perusahaan dapat mempromosikan pro¬duknya dengan pernyataan-pernyataan seperti tempat berbe¬lanja yang menyenangkan (supermarket), elegan (mobil), kecantikan wajah (kosmetik), kelembutan dan kehalusan kulit (sabun mandi), dan lain-lain. Dengan demikian fungsi perenca¬naan, produksi, dan pelayanan suatu perusahaan sulit sekali menggunakan definisi seperti ini sebagai dasar manajemen kualitas.
2. Product-based Approach
Pendekatan ini menganggap kualitas sebagai karakteristik atau atribut yang dapat dikuantifikasikan dan dapat diukur. Perbe¬daan dalam kualitas mencerminkan perbedaan dalam jumlah beberapa unsur atau atribut yang dimiliki produk. Karena pandangan ini sangat objektif, maka tidak dapat menjelaskan perbedaan dalam selera, kebutuhan, dan preferensi individual.
3. User-based Approach
Pendekatan didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergan¬tung pada orang yang memandangnya, dan produk yang paling memuaskan preferensi seseorang (misalnya perceived quality) merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. Perspektif yang subjektif dan demand-oriented ini juga menyatakan bahwa pelanggan yang berbeda memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda pula, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama dengan kepuasan maksimum yang dirasakannya.
4. Manufacturing-based Approach
Perspektif ini bersifat supply-based dan terutama memperhati¬kan praktik-praktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas sebagai sama dengan persyaratannya (conformance to requirements). Dalam sektor jasa, dapat di¬katakan bahwa kualitasnya bersifat operations-driven. Pen¬dekatan ini berfokus pada penyesuaian spesifikasi yang dikembangkan secara internal, yang seringkali didorong oleh tujuan peningkatan produktivitas dan penekanan biaya. Jadi yang menentukan kualitas adalah standar-standar yang ditetapkan perusahaan, bukan konsumen yang menggunakan¬nya. Dalam konteks ini konsumen dipandang sebagai fihak yang harus menerima standar-standar yang ditetapkan oleh produsen atau penghasil produk
5. Value-based Approach
Pendekatan ini memandang kualitas dari segi nilai dan harga. Dengan mempertimbangkan trade-off antara kinerja dan harga, kualitas didefinisikan sebagai “affordable excellence”. Kualitas dalam perspektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Akan tetapi yang paling bernilai adalah produk atau jasa yang paling tepat dibeli (best-buy).
read more...

CPM dan PERT

Mengapa CPM dengan PERT dapat dibedakan? Ini karena CPM dan PERT mempunyai persamaan. CPM dan PERT sama-sama digunakan dalam perencanan dan pengendalian proyek. Kedua-duanya mendeskripsikan aktifitas-aktifitas proyek dalam jaringan kerja. Dan dari jaringan tersebut, mampu dilakukan berbagai analisis untuk pengambilan keputusan tentang waktu, biaya, serta penggunaan sumber daya. Karena Rano dan Rani sama-sama bekerja pada ibu Rini dalam fungsi yang sama juga maka Rano dan Rini dapat dibedakan kinerjanya oleh ibu Rini.
Terdapat beberapa perbedaan antara CPM dengan PERT. Perbedaan pertama, CPM menggunakan satu jenis waktu untuk taksiran waktu kegiatan sedangkan PERT menggunakan tiga jenis waktu,yaitu: prakiraan waktu teroptimis, termungkin, dan terpesimis. Perbedaan kedua, CPM digunakan kala taksiran waktu pengerjaan setiap aktifitas diketahui dengan jelas dimana deviasi relatif mini atau dapat diabaikan sedangkan PERT digunakan saat taksiran waktu aktifitas tidak dapat dipastikan seperti aktifitas tersebut belum pernah dilakukan atau bervariasi waktu yang besar. Perbedaan ketiga, CPM menganggap proyek terdiri dari peristiwa susul menyusul. Perbedaan terakhir yang mampu diidentifikasi adalah PERT dengan berbasiskan statistik memberikan peluang hadirnya ketidakpastian. Hal tersebut, tampak dalam misal untuk mengukur probabilitas selesainya proyek jika kita inginkan proyek selesai pada suatu waktu tertentu. Akhirnya, perbedaan yang lain penulis serahkan kepada para analis yang hendak mengkritisinya lebih rinci, dan meskipun demikian CPM dengan PERT mempunyai tujuan yang sama dimana analisis yang digunakan adalah sangat mirip. Saya mirip dengan Leonardo de Caprio ... bukan, bukan tetapi sebenarnya Leonardo de Capriolah yang mirip dengan saya.


File: /jiunkpe/s1/sip4/2001/jiunkpe-ns-s1-2001-21494199-203-durasi_pert-chapter2.pdf Prefs...
Adobe
Help

Pages: 1 to 23 of 23
Document Body
Page Navigation Panel

________________________________________
Document Body
Page 1
2. TEORI PERT, PRODUKTIVITAS, DAN STRUKTUR BAJA
2.1 PENDAHULUAN
Bagian ini secara garis besar menjelaskan secara teoritis tentang berbagai
aspek dalam penelitian. Tujuannya adalah memperoleh ketentuan-ketentuan yang
mendasari metodologi penelitian, analisis data, dan lain-lain. Pemikiran utama
pemilihan teori-teori tersebut adalah mengetahui ketentuan PERT dikaitkan
dengan perhitungan produktivitas dan penerapannya pada proyek struktur baja.
Beberapa buku dan jurnal menjadi sumber landasan teori. Aspek-aspek
penelitian meliputi aspek metode PERT, produktivitas, dan struktur baja. Buku
Methods in Construction Management” oleh James J. Adrian
menjelaskan aspek metode PERT dan produktivitas, didukung oleh beberapa
jurnal tentang penelitian penentuan produktivitas ditambah buku
Proyek Dari Konseptual Sampai oleh Iman Soeharto.. Buku
Construction Network Scheduling” oleh James D. Stevens memberi
penjelasan tambahan untuk metode PERT. Aspek struktur baja dijelaskan dalam
buku Methods and Management” oleh S. W. Nunnally, “Erecting
Steel” oleh Samuel P. dan of Structural
Steel Building Frames” oleh Willian G. Rapp.
Penjelasan landasan teori dilakukan keseluruhan untuk setiap aspeknya,
untuk membentuk pemahaman yang menyeluruh terhadap penelitian. Hal ini
untuk menentukan langkah-langkah yang ditetapkan dalam penelitian, parameter
yang dicari, pelaksanaan analisis data yang tepat, dan lain sebagainya.
________________________________________
Page 2
8
2.2.1 Pendahuluan
Metode PERT adalah cara perencanaan proyek dengan janngan-
jaringan pekerjaan yang dihubungkan dengan pertimbangan tertentu. Metode ini
seperti halnya CPM ( Critical Path Method ) memerlukan beberapa parameter,
salah satunya durasi aktivitas. Penentuan durasi aktivitas pada CPM mengacu
pada durasi pasti ), artinya cukup melakukan estimasi satu durasi
aktivitas.
Karakteristik proyek menyebabkan durasi aktivitas menjadi hal yang
tidak pasti, karena durasi aktivitas dipengaruhi oleh bermacam-macam kondisi
yang bervariasi. Metode PERT memberi asumsi pada durasi aktivitas sebagai hal
yang probabitistik ( ) dikarenakan aktivitas konstruksi bervariasi.
2.2.2 Langkah-langkah Metode PERT
Garis besar metode PERT dan CPM hampir sama dalam pengelolaan
jaringannya. Perbedaannya terdapat pada penentuan durasi aktivitas dan durasi
jalur kritis. Garis besar metode PERT adalah sebagai berikut :
a. Penentuan aktivitas beserta durasinya. PERT menggunakan tiga asumsi durasi
aktivitas, yakni to ( optimistic time ), tp ( pesiniislic time ), dan tm ( most
prohuhle time )
b. Korelasi waktu dengan serta menentukan expected time
( te ), standar deviasi (se ), dan varian ( ve ).
c. Expected time ( te ) ditentukan sebagai durasi aktivitas, kemudian dicari jalur
kritis seperti halnya pada CPM.
________________________________________
Page 3
9
d. Tentukan durasi proyek dari jalur kritis tersebut ( Stevens, 1990, pp.142-143).
Hal-ha1 di atas memberi pemahaman mengenai PERT bahwa durasi
aktivitas merupakan hal yang probabilistik. Asumsi PERT yang harus dilakukan
adalah :
a. Masing-masing durasi aktivitas ditunjukkan sebagai
dengan durasi rata-rata, standar deviasi, dan varian yang dapat
ditentukan.
b. Distribusi dari durasi jalur kritis dapat ditentukan dari durasi rata-rata, dan
varian jalur kritis.
Penentuan to, tp, dan tm merupakan langkah awal dari PERT, karena
tiga asumsi waktu ini menentukan te. Tiga durasi tersebut diasumsikan sebagai
fungsi atau generalisasi dari distribusi Beta dengan variabel durasi aktivitas yang
berarti durasi PERT merupakan tidak keluar dari daerah
distribusinya. Fungsi distribusi Beta digunakan sebagai dasar untuk menentukan
durasi te, standar deviasi ( se ), dan varian ( ve ) PERT sebagai berikut :
(2.1)
( 2.2 )
( 2.3 )
Perumusan tersebut menunjukkan bahwa durasi aktivitas diasumsikan
sebagai yaitu distribusi Beta. Arti se dan ve
adalah sebagai indikator tingkat variabilitas te yang kita peroleh. Te adalah durasi
proyek yang diinginkan merupakan jumlah dari te jalur kritis. Ve merupakan
jumlah ve jalur kritis, demikian juga halnya Se, yang keduanya adalah gambaran
________________________________________
Page 4
10
variabilitas dari Te. Perhitungan dimungkinkan adanya dua atau lebih jalur kritis,
sehingga sebagai Te dipilih jalur kritis dengan Ve yang lebih besar.
2.2.3 Definisi Parameter PERT
Penentuan tiga durasi aktivitas ini menimbulkan berbagai macam-
macam waktu, sehingga estimasi durasi aktivitas masing-masing perencana
berbeda-beda karena perbedaan dalam menentukan to, tp, dan tm. Pengertian to,
tp, dan tm menurut Adrian ( 1973, p.270 ) adalah :
a. Durasi aktivitas pada CPM dapat dinyatakan sebagai durasi yang paling
mungkin ( tm ) pada PERT. Durasi aktivitas sebenarnya akan menyimpang
disekitar tm.
b. Durasi optimis ( to ) adalah durasi yang terjadi saat semua kondisi yang
mempengaruhi pelaksanaan konstruksi berada pada keadaan optimal.
c. Durasi pesimis ( tp ) adalah durasi aktivitas yang dipengaruhi oleh keadaan
yang menimbulkan masalah pada proyek.
Pengertian dari tiga durasi terebut masih tidak cukup untuk membantu
perencana untuk menentukan to, tp, dan tm. Adrian ( 1973, p.270 ) memberi
penjelasan bahwa tm memiliki pengaruh lebih besar pada to daripada tp.
Pengaruh ini diketahui dari selisih yang ada antara tp dan to. Selisih cukup
banyak antara tp dan to dapat diasumsikan bahwa te yang diperoleh memiliki
tingkat variabilitas yang tinggi daripada selisih tp dan to lebih kecil. Tingkat
variabilitas yang tinggi dari te menunjukkan tingkat ketidakpastian yang besar,
sehingga sedikit keyakinan terhadap te tersebut. Tingkat variabilitas ini diukur
________________________________________
Page 5
1 1
oleh se dan ve. Nilai se dan ve berbanding lurus dengan selisih antara tp dan to,
sehingga se dan ve akan besar jika selisih antara tp dan to juga besar.
Penjelasan di atas menyimpulkan bahwa penentuan tiga durasi
aktivitas harus memperhatikan tingkat variabilitas yang sekecil mungkin sehingga
te yang diperoleh memiliki tingkat keyakinan yang cukup besar.
2.2.4 Teori Probabilitas
Asumsi tiga durasi aktivitas pada PERT menggunakan analisis
statistik untuk menentukan perumusannya. Asumsi awal bahwa durasi PERT
merupakan fungsi distribusi normal dalam hal ini fungsi distribusi Beta, sehingga
probabilitasnya juga demikian yang merupakan salah satu continous probability
Penelitian menggunakan data dari hasil penelitian lapangan. Data
yang diperoleh tersebut terlebih dahulu dibentuk dalam data misalnya
berupa lengkung normal yang sesuai dengan teori PERT, bahwa semua durasi
tidak terlepas dan pola distribution sehingga penentuan
setiap durasi tidak sembarang.
Fungsi distribusi Beta simetris pada nilai rata-ratanya. Hal ini
merupakan asumsi PERT mengenai durasi aktivitas sebagai variabel acak yang
mendekati distribusi normal ( Adrian, 1973, p. 174 ). Penentuan probabilitas
durasi aktivitas menggunakan limit theorem, yakni suatu teori matematis
yang menggabungkan aktivitas PERT dengan salah satu continous
dalam hal ini distribusi Beta, untuk menentukan probabilitas durasi
pada jalur kritis ( Stevens, 1990, p. 142 ).
________________________________________
Page 6
12
menyatakan bahwa jika ukuran sampel besar,
distribusinya mendekati normal, meskipun distribusi populasi awalnya bukan
normal. Hal ini berarti walaupun distribusi populasi adalah continous, diskret,
simetris, maupun menetapkan selama varian
populasi terhingga, distribusi sampel mendekati normal, jika ukuran sampel cukup
besar ( Bhattacaryya dan Johnson, 1977, p.2 14 ). Asumsi PERT dianggap cukup
konsisten dengan theorem karena durasi aktivitas dianggap
membentuk distribusi normal dengan anggapan bahwa durasi aktivitas adalah
variabel acak, dengan populasi terhingga pada eksperimen tertentu.
2.2.5 Langkah Analisis Data
Penelitian di lapangan dilakukan pada setiap jenis pekerjaan
pelaksanaan. Hasil penelitian lapangan berupa waktu pelaksanaan. Waktu
pelaksanaan menjadi sumber untuk pengolahan data selanjutnya. Pengolahan data
menggunakan metode statistik deskriptif, yaitu analisis statistik yang bertujuan
untuk menyimpulkan dan penjabaran aspek-aspek penting dari data. Pencatatan
waktu dari hasil penelitian dilanjutkan dengan metode PERT.
Perhitungan produktivitas juga membutuhkan data berat elemen
struktur yang diperoleh dari perhitungan kontraktor sesuai dengan lampiran 2.
Produktivitas merupakan rasio antara berat - jam untuk setiap tenaga kerja ( ton /
jam / orang ).
2.2.5.1 Statistik.
Data penelitian berupa durasi aktivitas pelaksanaan masing-
masing elemen struktur. Pengolahan dilakukan secara statistik deskriptif
________________________________________
Page 7
dengan bantuan program SPSS 9.0 untuk memperoleh beberapa parameter
yakni :
a. Standar deviasi ( sd ), untuk menentukan to dan tp dengan probabilitas
tertentu.
b. Nilai rata-rata ( mean ) adalah durasi aktivitas rata-rata yang terjadi
sebenarnya
c. Skewness merupakan indikator distribusi normal pada data. Nilai
skewness terdiri dari dua, yaitu :
1. Statistic of Skewness adalah nilai yang menunjukkan kesimetrisan
distribusi normal. Nilai 0 menyatakan distribusi normal simetris.
Nilai positif berarti grafik distribusi memiliki “ekor” panjang ke
kanan, dan sebaliknya negatif memiliki “ekor” panjang ke kiri. Nilai
skewness lebih besar dari 1 menyatakan distribusi data memiliki
perbedaan dengan distribusi normal ditinjau dari kesimetrisannya.
2. Standar error of skewness merupakan nilai uji kenormalan suatu
distribusi data. Nilai antara -2 sampai 2 menyatakan bahwa data
tersebut diasumsikan berdistribusi normal.
Metode PERT diawali dengan menentukan durasi to, tp, dan
tm. Nilai to dan tp berdasarkan teori PERT terletak di sekitar waktu rata-
rata (tr). Probabilitas to dan tp dalam hal ini diasumsikan antara 90%
sampai 95% dengan persamaan :
to=tr-z.sd ( 2.4 )
tp=tr+z.sd ( 2.5 )
________________________________________
Page 8
14
Nilai z diperoleh dari tabel distribusi normal ( dapat dilihat
pada lampiran 3 ) dengan probabilitas yang telah ditentukan. Nilai tm
merupakan nilai yang dicari kemudian dikorelasikan terhadap te dengan
kata lain te diketahui lebih dulu daripada tm. Persamaan probabilitas
normal adalah :
tr-te
se
Nilai tr adalah waktu rata-rata yang dapat diasumsikan sebagai
waktu rata-rata sebenarnya yang diperoleh dari hasil penelitian di
lapangan. Nilai sd diketahui dari analisis statistik deskriptif. Nilai z
diperoleh dari tabel distribusi normal dengan probabilitas tertentu. Nilai te
dapat ditentukan dengan persamaan 2.6 karena ketiga parameter lainnya
telah diketahui.
Persamaan untuk menentukan te dalam metode PERT adalah
sesuai dengan persamaan 2. 1. Nilai tp,to, dan te telah diperoleh sehingga
dengan menggunakan persamaan tersebut nilai tm dapat di tentukan.
Langkah awal metode PERT yakni penentuan nilai to, tm, dan tp telah
dicapai.
Nilai se dan ve menggambarkan variabilitas te yang diperoleh.
Nilai se dan ve yang kecil menandakan suatu variabilitas yang kecil
sehingga tingkat keyakinan te lebih tinggi dari nilai se dan ve yang lebih
besar. Nilai probabilitas yang digunakan sebagai acuan adalah probabilitas
dengan nilai se dan ve yang terkecil karena dapat dianggap sebagai suatu
probabilitas dengan tingkat keyakinan yang cukup tinggi.
________________________________________
Page 9
15
2.2.6 Kelemahan Metode PERT
Metode PERT berdasarkan pada beberapa asumsi. Asumsi tersebut
meliputi estimasi tiga durasi aktivitas, distribusi waktu beserta probabilitasnya,
dan penggunaan perumusan berdasarkan statistik. Pendekatan yang digunakan
terutama yang berkaitan dengan perumusan matematika memiliki beberapa
kesalahan.
Adrian ( 1973, p.277-278 ) menguraikan beberapa hal yang menjadi
keleinahan metode PERT. Kelemahan ini menjadi perhatian para kontraktor,
yang terletak pada kelemahan asumsi dan kesalahan penerapan teori probabilitas
yang meliputi :
a. Kesulitan menentukan tiga durasi aktivitas meskipun pengertian mengenai to,
tp, dan tm sudah cukup banyak untuk membantu perencana. Pengertian to, tp,
dan tm menjadi sangat relatif karena masing-masing perencana dapat memiliki
pengertian dan asumsi tersendiri untuk ketiga asumsi durasi aktivitas tersebut.
b. Penggunaan fungsi1





Yulianti Dwi Astuti
Colours of life: A Psychological Perspective
» Currently browsing: Our Society

PTSD dan Keluarga (bag 2)
Bagaimana Post Traumatic Stress Disorders mempengaruhi anggota keluarga?
Pengalaman traumatis yang terjadi pada satu anggota keluarga dapat mempengaruhi semua anggota keluarga karena gejala PTSD dan reaksi trauma lainnya mengubah perasaan dan perilaku korban trauma. Jika reaksi trauma yang terjadi tergolong berat dan berlangsung selama beberapa waktu tanpa adanya treatmen maka hal ini dapat menyebabkan masalah besar [...]

Posted at: August 26th, 2008 - 7:13 am - Number of Comments » 0
________________________________________
Interactive Communication
Beberapa teman di staf UII blogs memang telah menuliskan tentang komunikasi efektif, tidak dilarang khan kalau saya menuliskannya dari perspektif yang lain. Kekurangan yang ada pada artikel ini mudah-mudahan dapat dilengkapi oleh tulisan teman-teman yang lain.
Komunikasi efektif bukanlah suatu hal yang kita lakukan kepada orang lain, tetapi suatu aktivitas yang kita lakukan dengan/ bersama orang [...]

Posted at: August 23rd, 2008 - 6:31 am - Number of Comments » 0
________________________________________
Post Traumatic Stress Disorders (bag 1)
Trauma psikologis dapat muncul jika seseorang menyaksikan atau mengalami suatu peristiwa yang menyebabkan perubahan dramatis yang mempengaruhi bagaimana hal itu direkam dalam sistem syaraf. Trauma dapat mencakup pengalaman riil atau pengalaman hampir mendekati kematian atau luka-luka serius dan ancaman fisik yang luka-luka/ kerugian bagi orang lain dan dirinya (Hiew, 2000).
Jenis-jenis trauma sendiri dapat dibedakan sebagai [...]

Posted at: August 21st, 2008 - 11:01 am - Number of Comments » 1
________________________________________
Mendengarkan dan Berempati
Latihan Mendengarkan dan Berempati
Mendengarkan dan merespon secara empatik adalah ketrampilan penting dalam berhubungan dengan orang lain. Sebagian besar dari manusia menghabiskan 70% waktunya untuk berkomunikasi, 45% dari waktu itu digunakan untuk mendengarkan. Kita semua ingin didengarkan. Adalah suatu penghinaan apabila kita diabaikan atau dilalaikan. Kita semua mengetahui apa artinya mendengarkan, sebenar-benarnya mendengarkan. Mendengarkan tidak [...]

Posted at: August 16th, 2008 - 8:49 pm - Number of Comments » 2
________________________________________
Homoseksual: Apa Dan Mengapa?
Kasus Ryan yang gencar diberitakan berbagai media akhir-akhir ini paling tidak telah mempopulerkan kembali beberapa fenomena psikologis seperti homoseksualitas dan juga gangguan kepribadian yang disebut psikopat. Karena sudah banyak blog yang membahas masalah psikopat, maka kali ini saya akan coba membahas masalah homoseksualitasnya saja.
Homoseksual secara awam kita kenal sebagai orang yang memiliki interaksi seksual dan/atau [...]

Posted at: August 1st, 2008 - 9:17 pm - Number of Comments » 11
________________________________________
« Previous Page

November 2008
M T W T F S S
« Oct

1 2
3
4 5 6 7
8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
• Pages
o About Me
• Categories
o Books
o Campus
o Man and Woman
o Our Society
o Personal Touch
o Personality
• Recent Posts
o Tragedi Pohon Asam Cina
o Cats in The Cradle
o Mystery of The Shadow
o Selamat Pagi Pak Polisi
o Syawal Bulan Peningkatan (It should be…..)
• Archives
o November 2008
o October 2008
o September 2008
o August 2008
o July 2008
• Recent Comments
o Snap on Homoseksual: Apa Dan Mengapa?
o Aqli Fari.N on Cats in The Cradle
o indra on Mendengarkan dan Berempati
o Janice Muis on Mendengarkan dan Berempati
o yulianti on Tragedi Pohon Asam Cina
• Updated Blogs
o "prihatmaji"
o Bambang Sutiyoso
o Blogs Staf Universitas Islam Indonesia
o Jati Diri
o Yuli Andriansyah's Weblog
• FireStats
o Pages displayed : 2433
o Unique visitors : 1364
o Pages displayed in last 24 hours : 13
o Unique visitors in last 24 hours : 9
Powered by FireStats
Staff UII Blogs
Powered by WordPress MU
& designed by Lisa Sabin • E.Webscapes.
Saturday, 29 November 2008



Kolumnis
• Erwin Novianto
• Miftachul Huda
• Wan Asjoer
• Wakhid Bageur
• Eka Lenggang
• Dorita Setiawan
• Asep Jahidin
• Ana Sakreti
• Toro Cascarino
• Arde Wisben
• Cynthia Pattiasina
Jajak pendapat
Apa pendapat anda tentang Website SWPRC
Menarik
22%
Tidak menarik
0%
Bermanfaat
78%
Kurang bermanfaat
0%
Total votes: 9
• 48 reads
• Arsip jajak pendapat
Berita
• Asia Forum On Ageing 2009: Extending the Frontiers of Ageing in Place - Options and Possibilities on Housing and Community Care
27 Nov 2008 - 14:58
ASIA FORUM ON AGEING 2009
11-14 January 2009
Suntec Singapore International Convention & Exhibition Centre
Please find attached the 2nd Announcement for the Asia Forum on Ageing 2009.
This conference is supported by VWOs-Charities Capability Fund (VCF) open to members of the National Council for Social Service (NCSS) for local participants.
Selengkapnya »
• The ICSD (International Consortium for Social Development) biennial symposium
21 Nov 2008 - 15:41
The ICSD (International Consortium for Social Development) biennial symposium is being held at Universidad Autonoma de Nuevo Leon ( UANL ) in Monterrey, Mexico July 27-31 2009.
Selengkapnya »
• Informasi Pendaftaran Mahasiswa Baru Universitas Indonesia untuk S3
30 Okt 2008 - 17:24
Pendaftaran dari mulai 13 Oktober - 28 November 2008. Test Masuk : 06 - 07 Desember 2008.
Panduan Pendaftaran
Tahapan Seleksi
Proses seleksi mahasiswa baru Universitas Indonesia dilakukan melalui dua tahap, yaitu:
Selengkapnya »
selebihnya
Jadual Program
• No upcoming events available

selebihnya
• Beranda
• SWPRC
• Peksos
• Berita
• Program
• Unduh
• Album
• Kontak
Halaman Utama
TERM OF REFFERENCE LATIHAN TRAUMA KONSELING Untuk guru dan orang tua murid SLTP / sederajat di Sikakap, Kep. Mentawai
Mulai: 24 Okt 2008 - 00:00
Selesai: 26 Okt 2008 - 23:59
Lokasi:
Desa Sikakap Kec. Pagai Utara Kab. Kepulauan Mentawai
LATAR BELAKANG
Dalam upaya mengurangi resiko dari suatu bencana, salah satu fokus utama adalah adanya kapasitas sumber daya manusia yang dapat melakukan berbagai aktifitas yang diarahkan pada upaya memperkecil akibat negative, termasuk dari kondisi stress atau trauma yang berlebihan, baik diakibatkan adanya serangan gempa, maupun karena kehilangan harta benda yang hilang tersapu tsunami.
Sejak kejadian gempa disertai ancaman tsunami kecil pada bulan September 2007 dan februari 2008, diperkirakan banyak penduduk di Mentawai mengalami trauma dengan berbagai tingkatan. Dari hasil wawancara dengan para guru dan orang tua, hampir dipastikan tidak ada penanganan khusus terhadap kondisi ini, khususnya di Sikakap.
Disamping kelompok orang tua terutama wanita, salah satu kelompok rentan stress dan trauma akibat bencana gempa dan tsunami adalah anak-anak sekolah. Keadaan stress dan trauma akan mempengaruhi mereka baik saat dirumah maupun disekolah (saat belajar). Penanganan pengurangan resiko akibat bencana kepada anak-anak sekolah menjadi bagian pokok dari kampanye pengurangan resiko bencana berbasis sekolah ini.
Sebagai daerah yang rentan bencana gempa dan tsunami, penduduk dikawasan ini (Sikakap) perlu memiliki keterampilan dasar tentang mengetahui tanda-tanda trauma dan stress, sebagai tindakan awal (pencegahan) untuk mengurangi kemungkinan gangguan psikologik yang lebih berat.
Salah satu kelompok masyarakat yang dipandang efektif penanganan stress dan trauma adalah dari lingkungan sekolah. Kelompok guru dan orang tua murid diharapkan menjadi tenaga terampil yang efektif melakukan konseling kepada anak-anak yang terkena trauma dan stress disaat darurat atau pasca adanya bencana. Dengan upaya ini, diharapkan warga masyarakat di Sikakap khususnya disekolah akan menjadi masyarakat yang siaga dengan berbagai kemungkinan bencana dan mampu mengurangi resiko psikologi akibat bencana gempa atau tsunami.
Untuk itu YTBI dan UNOCHA sebagai lembaga penyelenggara kampanye pengurangan resiko bencana berbasis sekolah akan melaksanakan pelatihan trauma konseling bagi guru dan orang tua untuk 4 (empat) sekolah yakni SMP GKPM Nemnemleleu, SMPN 01, MTsN Sikakap dan SMP Tri Bhakti Sikakap. Pelatih direncanakan dari Yayasan Pulih dan difasilitasi oleh Yayasan Tanggul Bencana Indonesia di Sikakap.
TUJUAN.
1. Menigkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang pentingnya trauma konseling.
2. Memberikan keterampilan kepada guru dan orang tua tentang teknik / metode konseling khususnya pada anak dan umumnya kepada kelompok umur lain.
HASIL YANG DIHARAPKAN
1. Adanya traformasi informasi tentang konseling
2. Adanya keterampilan guru dan orang tua tentang teknik dan metode konseling.
METODOLOGI
1. Ceramah dan tanya jawab 40%.
2. Praktek dan simulasi 60%
PESERTA
Peserta pelatihan adalah para guru dan orang tua dari 4 (empat) sekolah yakni SMP GKPM Nemnemleleu, SMPN 01, MTsN Sikakap dan SMP Tri Bhakti Sikakap. Rencana jumlah peserta adalah sebagai berikut :
Sekolah / Instansi Peserta
Guru Orang Tua Jumlah
SMP GKPM 8 2 10
SMPN 01 8 2 10
MTsN Sikakap 3 5 8
SMP Tribakti 4 7 11
Puskesmas Sikakap 2
Total 41
PELATIH
Pelatih untuk trauma konseling ini sebanyak 2 orang pelatih yang mempunyai pengetahuan, keterampilan dan pengalaman praktis dalam mendampingi korban bencana.
TEMPAT DAN WAKTU
Rencana waktu pelaksanaan pelatihan ini adalah tanggal 24 - 26 Oktober 2008 (3 hari), di Desa Sikakap Kec. Pagai Utara Kab. Kepulauan Mentawai (tempat / ruangan masih dalam konfirmasi.
MATERI POKOK PELATIHAN
1. Cara identifikasi orang yang terkena trauma, stress dan terganggu secara psikologik akibat terkena bencana.
2. Cara melakukan intervensi social dan psikologis kepada orang dengan distres psikologik ringan, orang dengan distress psikologik sedang atau berat, dan orang dengan gangguan mental (ringan dan sedang), misalnya depresi dan gangguan anxietas, termasuk PTSD, ringan dan sedang.
3. Beberapa kiat menguatkan mental masyarakat yang berada didaerah dengan potensi bahaya gempa dan tsunami, agar tidak rentan terhadap kondisi stress dan trauma pasca terjadinya bencana.
STAKEHOLDER YANG TERLIBAT
Kegiatan ini akan melibatkan :
1. YTBI
2. Fasilitator Pelatihan
3. Sekolah mitra
4. Posko Mentawai
5. Puskesmas Sikakap
• Calendar
• Versi PDF
• Versi ramah cetak
• 30 reads
• Program Organisasi


Login pengguna
Nama pengguna: *
Kata sandi: *

• Daftar menjadi pengguna
• Permohonan kata sandi baru

Resensi

Kualitas Pengasuhan di Panti Sosial Asuhan Anak di Indonesia
9 Sep 2008 - 13:37
Buku ini berdasarkan laporan hasil penelitian yang dilaksanakan atas kerjasama DEPSOS,

The Skills of Helping: Individuals, Families, Groups and Communities
29 Agt 2008 - 17:10
Buku ini memperkenalkan pada model yang sudah terbukti

Social Work with Groups
29 Agt 2008 - 15:42
Buku ini terdiri dari 13 Bab:
selebihnya
Weblink
• IUCISD
• KAPADIA Education Foundation
• APASWE
• NRCFCPPP
• Council on Social Work Education
• International Association of Schools of Social Work
• International Federation of Social Workers
• Building Professional Social Work (BPSW)
• NASW
• KOMNAS Perlindungan Anak
Siapa yang online
Saat ini terdapat 0 users dan 0 guests yang online.
Copyright © 2008 Social Workers. All rights reserved.
www.socialworkers.or.id
read more...