translate

ramp my enterprenuer inspiration

Tampilkan postingan dengan label mesin konversi energi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mesin konversi energi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 November 2010

korosi udara

KOROSI UDARA

Sebelum memjelaskan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengendalikan korosi udara, alangkah baiknya bila kita mempelajari beberapa faktor yang menyebabkannya.
Faktor paling penting adalah adanya air yang mungin berasal dari hujan, kabut, atau pengembunan akibat kelembaban relatif tinggi. Efek-efek masing-masing tida semua sama. Hujan deras bisa menguntungkan karenan membasuh bahan-bahan pengotor yang menumpuk di permukaan logam. Dalam merancang sebuah struktur, kita harus selalu waspada agar air hujan bisa mengalir dengan bebas dan mempunyai ventilasi cukup untuk mengeringkan seluruh permukaan.
Kabut dan pengembunan bisa mendatangkan bahaya korosi dari udara arena membasahi seluruh permukaan termasuk yang tersembunyi. Lapisan-lapisan tipis air dari kabut dan embun tidak akan mengalir dan akan tetap di situ sampai menguap oleh hembusan angin atau meningkatnya temperatur. Untuk memulai serangan, selapis tipis air yang tidak kelihatan sudah lebih dari cukup. Kebanyakan logam seperti besi, baja, nikel, tembaga dan seng mengalami orosi bila elembaban re;atif lebih dari 60 %. Jika kelembaban lebih dari 80 %, karat pada besi dan baja menjadi higrosopik (menyerap air) dan dengan demikian laju serangan meningkat lagi.
Lapisan tipis embun yang terbentuk dari kabut atau dari kelembaban relatif lebih tinggi mudah jenuh dengan oksigen dari udara, arena itu reaksi katodik, entah pengurangan Oksigen atau pembentukan Hidrogen, bukan merupakan tahapan penentu laju dalam proseskorosi yang ditimbulkannya. Laju dan tingkat keparahan serangan biasanya ditentukan oleh konduktifitas eletrolit, yang bergantung pada kadar bahan pengotor yang terlarut. Bahan pengotor ini berbeda-beda, dari Karbon dioksida, Belerang trioksida, senyawa-senyawa nitrat, Hidrogen sulfida dan ion-ion klorida di lingkungan laut. Uji-uji exposure telah memperlihatkan bahwa laju orosi untuk baja yang hanya 5 μm per tahun di Nkpoku, sebuah desa di Nigeria, meningkat menjadi 90 μm per tahun di Sheffield, sebuah kawasan industri di Inggris. Di lingkungan laut, terutama di pesisir, laju orosi bisa lebih tinggi lagi.
Temperatur berpengaruh terhadap orosi udara melalui dua cara. Pertama peningkatan temperatur biasanya diikuti oleh peningkatan laju reaksi. Pada umumnya, laju reaksi meningkat hampir dua kali lipat setiap kali temperatur naik 10o C. Bagaimanapun, pada temperatur tinggi, elarutan oksigen berkurang dan karena itu laju reaksi katodik menjadi lebih rendah sehingga membatasi orosi. Dalam lapisan-lapisan tipis dengan pasokan oksigen yang baik dari udara efek pembatasan ini akan kecil.
Kedua, perubahan temperatur berpenbgaruh terhadap kelembaban relatif damn dapat menyebabkan pengembunan titik embun. Jika temperatur turun lebih rendah dari titik embun, udara menjadi jenuh dengan uap air dan titik-titik air akan mengendap pada setiap permukaan yang terbuka. Pengembunan bisa terjadi di semua permukaan yang cukup dingin, baik di luar maupun di dalam. Titik-titik air dapat menggenang pada tempat-tempat tertentu dan membentuk kolam elektrolit yang tersembunyi dalam suatu struktur sehingga korosi terjadi di tempat yang tidak disanga-sangka.
Pengembunan titi embun bertanggung jawab atas berbagai kerusakan pada knalpot-knalpot endaraan dan cerobong-cerobong asap. Jika temperatur gas yang disemburkan turun hingga lebih rendah dari titi embunnya sebelum sempat terlepas ke udara bebas, pengembuanan akan terjadi. Gas bahan bakar biasanya mengandung belerang oksida dan senyawa-senyawa nitrogen. Ini akan menjadi elektrolit-eletrolit agresif yang dengan cepat mendatangkan kegagalan korosi dan bermula pada permukaan sebelah dalam.
Belerang triosida bisa menjadi asam sulfat, sebuah eletrolit yang sangat agresif. Peningkatan kadar belerang trioksida juga menaikkan juga meningkatkan titik embun gas sehingga kondensat akan terebentuk pada temperatur lebih tinggi dan mempercepat kontak permukaan knalpot dengan elektrolit. Pengotor bahan bakar lain yang umum, vanadium, bertindak sebagai katalisator untuk pengubahan belerang dioksida menjadi belerang trioksida dalam ruang pembakaran, ini pun meningkatan emungkinan kegagalan dini pada sistem pembuangan gas. Gas buang tanpa belerang triosida memiliki titik embun dalam rentang antara 38o C hingga 46o C, kehadiran 5 ppm belerang triosida menaikkannya menjadi 100o C, sedangkan 40 ppm menyebaban titi embun menjadi 168o C.
Partikel-partikel padat yang terbawa oleh aliran udara atau gas dapat mengiis cat dan selaput-selaput pelindung pada permukaan logam. Bagian yang rusak akibat pengikisan ini cenderung terkorosi lebih dahulu begitu elektrolit terbentuk pada permukaannya.
Pesawat terbang mempunyai peluang besar untuk mengalami erusakan korosi akibat kikisan partikel padat. Ketika masih di adarat, cat bisa rusa oleh pasir dan debu yang berterbangan akibat angin olakan yang ditimbulkan oleh geraan pesawat. Sedangkan di angkasa, kikisan bisa terjadi oleh partikel-partikel es yang sangat halus atau tetes-tetes air hujan. Korosi pada bagian yang terkikis itu segera dimulai begitu pesawat memasuki daerah lembab. Cat pesawat terbang yang bahan dasarnya resin epoksin lebih rentan dibanding yang bahan dasarnya poliuretan, khususnya karena partikel-partikel es yang halus bisa membentuk lubang-lubang kecil menembus lapisan cat.
Partiel-partiel abrasif yang masuk ke dalam motor turbin gas dapat mengikis lapisan penahan temperatur tinggi pada sudu-sudu, akibatnya bagian ini akan mengalami korosi panas atau korosi temperatur tinggi.
Apabila kelembaban relatif tinggi, sel-sel aerasi diferensial mini dapat terbentuk di bawah debu atau partikel-partikel kasar yang menempel pada permukaan logam. Akibatnya, permukaan logam akan dipenuhi dengan produk korosi yang menutupi lubang-lubang korosi. Baja nirkarat, yang digunakan sebagai penghias bagian depan rumah di kota-kota besar, sering menderita korosi seperti ini. Karena itu perlu dilapisi minyak atau bahan transparan lain untuk menghentikan proses pembentukan sel. Beberapa partiel, misalnya jelaga, dapat bertindak sebagai atoda-atoda aktif yang membentuk sel-sel korosi penyebab lubang-lubang di permukaan logam.

PENGENDALIAN KOROSI UDARA

Cara paling efektif untuk mengamankan suatu benda dari korosi udara adalah memasukkannya ke dalam ruang hampa kemudian menutup lubang-lubangnya dengan rapat. Namun begitu ruang hampa itu bocor, sebesar lubang jarumpun, korosi akan dimulai. Sebagai perlindungan tambahan, ke dalam ruang hampa itu orang biasanya memasukkan bahan pengering.
Di gudang-gudang dan ruang penyimpanan, udara dapat dipanasan untuk menurunkan kelembaban relatif hingga di bawah 60 %, karena pada harga tersebut korosi aan dimulai pada kebanyakan logam. Pemanasan ini tidak menghilangkan uap air dari udara dan pengembunan masih akan terjadi pada permukaan yang dapat mendinginginkan udara hingga di bawah titik embunnya. Siapa pun yang memakai kacamata pasti pernah mengalami gejala ini, lensa kacamata menjadi berkabut ketika pindah e tempat hangat dari ruang yang lebih dingin. Korosi ringan sering diderita oleh benda-benda logam yang baru dimasukkan ke dalam gudang yang temperaturnya terkendali, yakni sebelum logam mampu menyesuaikan diri dengan temperatur udara di ruangan itu. Masalah serius timbul jika air ebetulan terperangkap di bagian tersembunyi yang buru ventilasinya sehingga pengeringan berjalan lambat. Efek yang sama akan terjadi apabila barang-barang dikemas repat-rapat di ruang kerja hangat dan kemudian dipindahan ke kondisi lebih dingin, misalnya di gudang tanpa pemanas atau di perjalanan. Dalam emasan tadi pengembunan bisa berlangsung.
Uap air dapat dihilangkan dari udara yang kan dirirkulasikan ke dalam gudang. Mendinginkan udara dengan cara melewatkannya e permukaan yang lebih dingin dari temperatur kerja dalam gudang akan memisahkan sebagian kandungan air sehingga kelembaban relatif bisa dipertahankan di bawah tingkat ritisnya. Pengeringan melalui pembekuan dapat digunakan untuk menghasilkan udara dengan sisa kandungan air sangat rendah. Untuk menjaga agar kelembaban relatif rata-rata di bawah 60 %, upaya penurunan kelembaban harus jauh lebih rendah, misalnya hingga 30 % atau 40 %, yaitu untuk mengimbangipertukaran udara melalui pintu-pintu atau lubang-lubang ventilasi alami. Kelembaban relatif yang optimun dari segi kenyamanan adalah antara 40 % dan 65 %. Tingkat-tingkat yang sedikit lenbih rendah di gudang-gudang dianggap tidak membahayakan kesehatan, walaupun para pekerja mungkin akan lekas haus bila berada di situ cukup lama.
Dalam kotak-otak atau ruang penyimpanan, upaya pengeringan udara melalui pendinginan kurang tepat, dan dogantikan dengan bahan penyerap air. Sekali lagi, untuk mendapatkan efek yang maksimum, udara dalam kotak atau ruang penyimpanan harus diusahakan tidak bertukar lagi dengan udara di luar, atau paling tidak laju pertukaran udara dibuat sekecil mungkin. Bahan penyerap tidak boleh korosif terhadap logam yang dilindungi, dan lebih baik lagi kalau murah dan mudah penanganannya. Dalam praktek, untuk mendapatkan kelembaban sangat rendah yang paling umum adalh menggunakan silica gel dan alumina yang diaktivasi, dalam pembungkus dari bahan penyaring molekuler. Perubahan warna pada bahan penyarap akan menyatakan penurunan kemampuan pengeringannya, tetapi kemampuan itu dapat dipulihkan sukup dengan memanasannya dengan oven.
Sebagaimana telah diungkapan, kemasan bahan penyerap tidak boleh sembarangan. Udara dari luar harus bebas bersirkulasi diantara agen-agen pengeringan itu tetapi yang terakhir ini tidak boleh tumpah eluar. Di rungan atau kotak besar yang stabil, bahan pengering boleh ditempatkan di atas piring terbuka, tetapi dalam kotak-kotak emasan kecil yang mungkin akan dibalik-balik atau terguncang-guncang, orang menggunakan kotak logam berlubang-lubang atau kantung berpori.
Bahan pengotor dapat dihilangkan dengan mengabutan air bersih ke udara sebelum udara tadi dimasukkan ke dalam sistem. Besarnya luas permukaan yang terkena pengabutan memungkinkan gas-gas pengotor larut dengan cepat sementara pertikel-pertikel padatnya tersapu oleh aliran-aliran udara. Tentu saja, proses scrubbing ini harus dilaksanakan sebelum udara dikeringakan.
Metode lain untuk melindungi komponen baja selama pengangkutan dan penyimpanan adalah menggunakan vapour phase inhibitor (VPI). Sesuai dengan namanya, bahan-bahan ini mudah menguap. Bahan ini akan menyebar ke seluruh ruang bebas dalam kemasan dan mengendapkan selaput penolak air ke permukaan-permukaan yang terbuka. Sementara VPI menguntungkan untuk menangani logam-logam besi, bahan ini dapat meningkatkan laju serangan kepada bahan-bahan lain, jika komponen yang dilindungi memiliki bagian-bagian dari plastik, logam bukan besi, dan cat, pemakaian inhibitor ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Mekanisme perlindungan yang diberian oleh VPI masih belum jelas, tetapi ada beberapa hal yang dapat dikemukakan. Senyawa VPI terbentuk dari sebuah kation organik mudah menguap, biasanya amina, dan sebuah anion yang bertindak sebagai inhibitor. Pada permukaan logam, kation memproduksi sebuah selaput adsorbsi tipis yang mempunyai dua fungsi penting : pertama, selaput itu hidrofobik, dan kedua, selaput itu mengendalikan pH lapisan embun yang terbentuk di atasnya. Dalam dua jenis VPI yang sering digunakan, yang menjadi anion adalah karbonat dan nitrit. Anion-anion ini terbawa oleh kation yang mudah menguap untuk kemudian diendapan ke permuaan logam. Andaikata ada air menggenang di atasnya, atau komponen terendamsedemikian sehingga selaput kation pecah, anion bertindak sebagai inhibitor normal untu mengendalikan laju korosi dengan mempolarisasi reaksi-reaksi elektroda. Ketika terendam dalam air, anion biasanya memberikan tingkat perlindungan yang sama seperti yang akan diberikan oleh garam natrium anion tersebut.
Untuk baja dan alumunium, dua VPI yang lazim dipakai adalah disikloheksilamina nitrit (DCHN) dan sikloheksilamina (CHC). DCHN mempunyai tekanan uap lebih rendah dan dan membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan selaput permukaan yang efektif, tetapi perlindungan yang diberikannya jauh lebih lama. Tekanan uap bahan ini 0,027 Pa pada 25 o C, dan bila dilarutkan membuat air mempunyai pH 6,8. Satu gram bahan ini dapat menjenuhkan 550 m3 udara dan membuatnya tidak korosif lagi terhadap baja. Dalam kemasan yang rapat pada temperatur kamar DCHN akan menghalangi korosi sampai beberapa tahun. Bagaimanapu, bahan ini dapat menimbulkan efek buruk terhadap sebagian bahan logam bukan besi, plasti dan cat. Ini terutama dialami oleh seng, magnesium dan kadmium. CHC mempunyai tekanan uap tinggi, 21,3 Pa pada 25o C, dan bila dilarutkan akan membuat air mempunyai pH 10,2. tekanan uap yang lebih tinggi membuatnya menghasilkan selaput pelindung dalam waktu jauh lebuh cepat dibandingkan DCHN, tetapi untuk berat inhibitor yang sama, perlindungan yang diberikannya jauh lebih singkat. CHC paling baik bila digunakan dalam kemasan-kemasan yang dibuka secara berkala; VPI dapat diperbaharui secara beraturan, dan komponen dengan cepat memperoleh perlindungan kembali begitu kemasanj ditutup. Bahan ini tidak menghambat korosi pada kadmium, malahan meningkatkan laju serangan korosi pada tembaga, kuningan dan megnesium. Plastik, cat dan warna celupan juga bisa rusak dalam udara yang mengandung CHC.
Kertas mengandung DCHN telah digunakan secara luas dalam egiatan reayasa teliti untuk membungkus alat-alat, perlengkapan ukur dan komponen-komponen peka lain. Kertas yang agak kasap itu bisa memberikan perlindungan sampai bertahun-tahun, asalkan kemasan tidak terganggu. CHC biasanya ditempatkan dalam piring terbuka atau dalam wadah berpori.
Orang juga menggunakan kedua VPI itu dalam bentu campuran. CHC membentuk selaput pelindung dengan cepat, sedangkan DCHN berfungsi memberi perlindungan jangka panjang. Bahan-bahan VPI lain juga telah dibuat untuk melindungi logam-logam yang berbeda, borat untuk seng dankromat untuk tembaga serta paduan-paduannya, tetapi tampaknya tidak digunakan secara luas.
Metode pemghampaan atau penyerapan digunakan untuk melindungi peralatan elektronik dan optik, sedangkan VPI tidak digunakan untuk maksud ini karena menghasilkan selaput yang kasap.
Banyak bahan organik seperti kayu, plastik, dan cat mengeluarkan uap agresif yang memulai untuk membantu proses korosi pada permukaan logam di dekatnya. Asam maleat, glikol, dan stirena terbukti tedesorbsi dari kaca yang diperuat serat plastik, sedangkan kayu mengeluarkan uap asam asetat. Produk yang belaangan tadi ternyata menimbulkan masalah serius bila peti kayu digunakan untuk menyimpan atau mengangkut benda-benda logam.


Unsur utama pembentuk kayu adalah selulosa. Senyawa ini terdiri dari rantai-ranrai panjang molekul gula yang mengandung gugus-gugus hidroksil basa, sebagian diantaranya bergabung dengan asam asetat dalam bentuk ester. Gugus-gugus ini dapat bereaksi dengan air untuk melepaskan asam asetat bebas, yaitu :
CH3COOR + HOH ROH + CH3COOH
ester air alkohol asam
kesetimbangan dalam reaksi itu selalu mengandung arti bahwa air dalam kayu agak bersifat asam. Bagaimanapun, bahaya korosi yang utama timbul dari mudah menguapnya asam asetat dari kayu yang kemudian memenuhi udara di sekitarnya. Elektrolit yang efektif sekali akan terbentuk ketika uap tadi mengembun di permukaan logam.
Kotak kayu terbuka yang memungkinan peredaran udara secara bebas dapat mengurangi tingkat kerusakan. Dalam ruang terkurung yang cuaca mikronya bisa menjadi sarat dengan uap asam, dan benda dari besi terpaksa disimpan rapat-rapatdi dalamnya, maka bahan penyerap air atau VPI harus digunakan. Bagian dalam peti katu harus dilapisi seluruhnya agar uap dari kayu tidak mencapai logam. Sebagai bahan pelapis, orang biasanya menggunakan polietilana, kertas ter, kertas kraft berlapis aspal atau bahkan lembaran seng. Bahan penyerap air atau VPI ditaruh di sebelah dalam lapisan pelindung yang sambungan-sanbungannya harus betul-betul rapat. Serangan asam asetat yang paling parah dialami oleh baja lunak, seng, paduan-paduan kadmium dan magnesium, sedangkan titanium, timah, dan baja nirkarat austenitik menderita kerusakan paling ringan.
Korosi oleh uap asam selalu dimungkinkan bila logam berdekatan dengan kayu dan ventilasi untuk mengusir uap asam tidak memadai.
read more...

Kamis, 03 Desember 2009

mesin Konversi Energi (turbin gas)

PENDAHULUAN

Pengertian: (gas turbine),adalah suatu alat yang dapat menghasilkan Energy dari proses pembakaran Gas panas dan di alirkan untuk menggerakkan turbin. Bentuk sederhana pembangkit tenaga listrik dengan bahan bakar gas alam yang berasal dari dalam perut bumi.

proses gas alam yang nantinya setelah diolah, akan digunakan untuk pembakaran (combustion) pada turbine gas. Kebanyakkan di pembangkitan yang digunakan adalah gas ethan serta pentana

Pembangkit tenaga listrik dengan gas alam mempunyai biaya investasi yang paling kecil bila dibandingkan dengan pembangkit listrik dengan menggunakan bahan bakar minyak, diesel, maupun batubara. Gas combined cycle mempunyai biaya investasi yang lebih besar bila dibandingkan dengan turbin gas tetapi gas combined cycle mempunyai keunggulan yaitu efisiensinya tinggi. Turbin gas lebih banyak digunakan bila kapasitas pembangkitan masih rendah seperti kondisi di Sumatera., Kalimantan, dan pulau lain.

KOMPONEN TURBIN GAS

Turbin gas tersusun atas komponen-komponen utama seperti air inlet section, compressor section, combustion section, turbine section, dan exhaust section. Sedangkan komponen pendukung turbin gas adalah starting equipment, lube-oil system, cooling system, dan beberapa komponen pendukung lainnya. Berikut ini penjelasan tentang komponen utama turbn gas:

1. Air Inlet Section. Berfungsi untuk menyaring kotoran dan debu yang terbawa dalam udara sebelum masuk ke kompresor. Bagian ini terdiri dari:

a. Air Inlet Housing, merupakan tempat udara masuk dimana didalamnya terdapat peralatan pembersih udara.

b. Inertia Separator, berfungsi untuk membersihkan debu-debu atau partikel yang terbawa bersama udara masuk.

c. Pre-Filter, merupakan penyaringan udara awal yang dipasang pada inlet house.

d. Main Filter, merupakan penyaring utama yang terdapat pada bagian dalam inlet house, udara yang telah melewati penyaring ini masuk ke dalam kompresor aksial.

e. Inlet Bellmouth, berfungsi untuk membagi udara agar merata pada saat memasuki ruang kompresor.

f. Inlet Guide Vane, merupakan blade yang berfungsi sebagai pengatur jumlah udara yang masuk agar sesuai dengan yang diperlukan

2. Compressor Section. Komponen utama pada bagian ini adalah aksial flow compressor, berfungsi untuk mengkompresikan udara yang berasal dari inlet air section hingga bertekanan tinggi sehingga pada saat terjadi pembakaran dapat menghasilkan gas panas berkecepatan tinggi yang dapat menimbulkan daya output turbin yang besar. Aksial flow compressor terdiri dari dua bagian yaitu:

3. Compressor Rotor Assembly. Merupakan bagian dari kompresor aksial yang berputar pada porosnya. Rotor ini memiliki 17 tingkat sudu yang mengompresikan aliran udara secara aksial dari 1 atm menjadi 17 kalinya sehingga diperoleh udara yang bertekanan tinggi. Bagian ini tersusun dari wheels, stubshaft, tie bolt dan sudu-sudu yang disusun kosentris di sekeliling sumbu rotor.

4. Compressor Stator. Merupakan bagian dari casing gas turbin yang terdiri dari:

a. Inlet Casing, merupakan bagian dari casing yang mengarahkan udara masuk ke inlet bellmouth dan selanjutnya masuk ke inlet guide vane.

b. Forward Compressor Casing, bagian casing yang didalamnya terdapat empat stage kompresor blade.

c. Aft Casing, bagian casing yang didalamnya terdapat compressor blade tingkat 5-10.

5. Discharge Casing, merupakan bagian casing yang berfungsi sebagai tempat keluarnya udara yang telah dikompresi.

6. Combustion Section. Pada bagian ini terjadi proses pembakaran antara bahan bakar dengan fluida kerja yang berupa udara bertekanan tinggi dan bersuhu tinggi. Hasil pembakaran ini berupa energi panas yang diubah menjadi energi kinetik dengan mengarahkan udara panas tersebut ke transition pieces yang juga berfungsi sebagai nozzle. Fungsi dari keseluruhan sistem adalah untuk mensuplai energi panas ke siklus turbin. Sistem pembakaran ini terdiri dari komponen-komponen berikut yang jumlahnya bervariasi tergantung besar frame dan penggunaan turbin gas. Komponen-komponen itu adalah :

7. Combustion Chamber, berfungsi sebagai tempat terjadinya pencampuran antara udara yang telah dikompresi dengan bahan bakar yang masuk.

8. Combustion Liners, terdapat didalam combustion chamber yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya pembakaran.

9. Fuel Nozzle, berfungsi sebagai tempat masuknya bahan bakar ke dalam combustion liner

10. Ignitors (Spark Plug), berfungsi untuk memercikkan bunga api ke dalam combustion chamber sehingga campuran bahan bakar dan udara dapat terbakar.

11. Transition Fieces, berfungsi untuk mengarahkan dan membentuk aliran gas panas agar sesuai dengan ukuran nozzle dan sudu-sudu turbin gas.

12. Cross Fire Tubes, berfungsi untuk meratakan nyala api pada semua combustion chamber.

13. Flame Detector, merupakan alat yang dipasang untuk mendeteksi proses pembakaran terjadi.

14. Turbin Section. Turbin section merupakan tempat terjadinya konversi energi kinetik menjadi energi mekanik yang digunakan sebagai penggerak compresor aksial dan perlengkapan lainnya. Dari daya total yang dihasilkan kira-kira 60 % digunakan untuk memutar kompresornya sendiri, dan sisanya digunakan untuk kerja yang dibutuhkan.

Komponen-komponen pada turbin section adalah sebagai berikut :

a. Turbin Rotor Case

b. First Stage Nozzle, yang berfungsi untuk mengarahkan gas panas ke first stage turbine wheel.

c. First Stage Turbine Wheel, berfungsi untuk mengkonversikan energi kinetik dari aliran udara yang berkecepatan tinggi menjadi energi mekanik berupa putaran rotor.

d. Second Stage Nozzle dan Diafragma, berfungsi untuk mengatur aliran gas panas ke second stage turbine wheel, sedangkan diafragma berfungsi untuk memisahkan kedua turbin wheel.

e. Second Stage Turbine, berfungsi untuk memanfaatkan energi kinetik yang masih cukup besar dari first stage turbine untuk menghasilkan kecepatan putar rotor yang lebih besar.

f. Exhaust Section. Exhaust section adalah bagian akhir turbin gas yang berfungsi sebagai saluran pembuangan gas panas sisa yang keluar dari turbin gas.

Cara Turbin Gas Bekerja

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAAZrINvajaTcVfTG2vXRxhhSXxPsL4OLeD4IUDJalvfn-ZCxF71rReEgbxGM-JJJZ5KatZqGKp5WFQWu3e_nh6LleeBMuHiYNlWPeYZGNgUnXp8IHFsJ3hZKDeQDxTC_KPB_C02oNBsor/s200/mesin+jet_01.jpg

Turbin gas banyak digunakan oleh pesawat terbang, helikopter dan pembangkit energi listrik skala kecil. Turbin gas digunakan karena memiliki kelebihan.

Daya yang dihasilkan turbin gas lebih banyak dibandingkan dengan mesin siklus 4 atau 2 tak dengan berat mesin yang sama. Artinya dengan berat yang sama daya yang dihasilkan turbin gas lebih banyak, oleh karena itu turbin gas banyak digunakan untuk alat transportasi seperti yang disebutkan diatas.


Cara Kerja Turbin Gas

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0xDI2JC4wVJMYCdyJORWghq_APy2sRnTir_rAX1n__ng3kuTExeGVp2Zpn_AZeuVKidfvsbGG7-l79d2CRnfjfyMDLzec1eLmRMKl62iVNs_41UsXmeY8zttEZufTke4ZIxCJQGKHE3Zp/s200/turbin+gas.gif

Komponen utama turbin gas ada tiga. Kompresor berfungsi untuk menghasilkan udara bertekanan tinggi. Bilik pembakaran berfungsi sebagai area tempat pembakaran bahan bakar dan menghasilkan udara bertekanan dan berkecepatan tinggi. Turbin berfungsi merubah udara yang bertekanan tinggi dari bilik pembakaran menjadi gerakan mekanis.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkXtzrifCvsVIGwIYo8V-uYAaEx3kA8oOAuARIhxfjzI7UcwzGdRJcC2wB-RYejvLoEVjQXKzNN50TyspD3EXZwukCCPeuLY0ry3eQOlqtn7tf2_UxzOgiFTEe2yjquKkWpS5-FO3rhvd8/s200/turbin+gas.jpg

Ruang Pembakaran. Pembakaran merupakan kombinasi kimia dari tiga elemen yaitu udara bahan bakar dan api. Bahan bakar yang digunakan untuk turbin gas adalah hidrokarbon. Udara yang bertekanan tinggi dari kompresor memasuki ruang pembakaran, saat itu juga bahan bakar di semprotkan oleh fuel injector sehingga terjadi pembakaran yang menghasilkan udara yang bertekanan dan berkecepatan tinggi. Inilah yang dimanfaatkan oleh turbin untuk menghasilkan daya. Modifikasi dari turbin gas ada yang disebut dengan turbofan. Bentuknya hampir sama dengan turbin gas. Turbo fan memiliki kipas (fan) sebelum kompresor.

PROSES SINGKAT PADA TURBIN GAS

Turbin gas secara teori tidak begitu rumit untuk menjelaskannya. Terdapat 3 komponen atau bagian utama yaitu :

1. Compressor : menaikkan tekanan udara yang masuk

2. Combustion Area: Membakar bahan bakar yang masuk dan menghasilkan tekanan yang sangat tinggi begitu pula dengan kecepatannya.

3. Turbin: Mengkonversi energi dari gas dengan tekanan dan kecepatan yang tinggi hasil dari combustion area menjadi energi mekanik berupa rotasi poros turbin.

SIKLUS TURBIN GAS

Tiga siklus turbin gas yang dikenal secara umum yaitu:

A. Siklus Ericson

Merupakan siklus mesin kalor yang dapat balik (reversible) yang terdiri dari dua proses isotermis dapat balik (reversible isotermic) dan dua proses isobarik dapat balik (reversible isobaric). Proses perpindahan panas pada proses isobarik berlangsung di dalam komponen siklus internal (regenerator), dimana effisiensi termalnya adalah:

th = 1 – T1/Th

dimana; T1 = temperatur buang dan Th = temperatur panas


B. Siklus Stirling

Merupakan siklus mesin kalor dapat balik, yang terdiri dari dua proses isotermis dapat balik (isotermal reversible) dengan volume tetap (isovolum). Efisiensi termalnya sama dengan efisiensi termal pada siklus Ericson.

C. Siklus Brayton

Siklus ini merupakan siklus daya termodinamika ideal untuk turbin gas, sehingga saat ini siklus ini yang sangat populer digunakan oleh pembuat mesin turbine atau manufacturer dalam analisa untuk up-grading performance. Siklus Brayton ini terdiri dari proses kompresi isentropik yang diakhiri dengan proses pelepasan panas pada tekanan konstan. Pada siklus Bryton tiap-tiap keadaan proses dapat dianalisa secara berikut:

• Proses 1---2,(kompresi isentropik)

Kerja yang dibutuhkan oleh kompresor: Wc = ma(h2–h1)

• Proses 2---3, pemasukan bahan bakar pada tekanan konstan.

Jumlah kalor yang dihasilkan: Qa = (ma+mf)(h3–h2)

• Proses 3---4, ekspansi isentropik didalam turbin.

Daya yang dibutuhkan turbin: WT = (ma+mf)(h3-h4)

• Proses 4---1, pembuangan panas pada tekanan konstan ke udara.

Jumlah kalor yang dilepas: QR = (ma+mf)(h4–h1)

Siklus Brayton

KLASIFIKASI TURBIN GAS

Turbin gas dapat dibedakan berdasarkan siklusnya, kontruksi poros dan lainnya.

A. Menurut siklusnya turbin gas terdiri dari:

•Turbin gas siklus tertutup (Close cycle)

•Turbin gas siklus terbuka (Open cycle)

Perbedaan dari kedua tipe ini adalah berdasarkan siklus fluida kerja. Pada turbin gas siklus terbuka, akhir ekspansi fluida kerjanya langsung dibuang ke udara atmosfir, sedangkan untuk siklus tertutup akhir ekspansi fluida kerjanya didinginkan untuk kembali ke dalam proses awal.

Contoh data-data manufacture gas turbin poros tunggal adalah :

Type PG 5341 (N)

Rating (Base, Gas/Oil) 20.900/20.450 (kW)

Altitude Sea Level

Compressor Stage 17

Turbin Stage 2

Turbin Speed 5100 rpm

Inlet Temperatur 32.2oC

Inlet Pressure 1.0333 kg/cm2

Exhaust temperatur 488oC

Exhaust Pressure 1.0333 kg/cm2

Pressure Ratio 9.4

Desired min. Horse Power 33.000 HP

Fuel Natural Gas

Fuel Systems Gas/Oil (Unit A dan B)

Gas Unit C, D, E, F, G dan H)

Control System Speedtronic

Accessory gear Type A500

Starting system 400 HP Induction Motor (Unit C/H)

500 HP motor diesel (Unit A/B)

B. Menurut konstruksi porosnys, dalam industri turbin gas umumnya diklasifikasikan dalam dua jenis yaitu :

1. Turbin Gas Poros Tunggal (Single Shaft)

Turbin jenis ini digunakan untuk menggerakkan generator listrik yang menghasilkan energi listrik untuk keperluan proses di industri.

2. Turbin Gas Poros Ganda (Double Shaft)

Turbin jenis ini merupakan turbin gas yang terdiri dari turbin bertekanan tinggi dan

turbin bertekanan rendah, dimana turbin gas ini digunakan untuk menggerakkan beban yang berubah seperti kompresor pada unit proses.

read more...